ISRA-MI’RAJ NABI

ISRA-MI’RAJ NABI

Rajab telah tiba. Pada bulan ini ada peristiwa besar dalam sejarah kenabian Muhammad Saw. Dunia Islam menyebutnya sebagai hari besar “Isra’ dan Mi’raj”. Isra adalah perjalanan malam Nabi dari Masjid al-Haram di kota suci Makkah ke masjid al-Aqsha di Yarussalem, Palestina. Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjid al-Aqsha menuju puncak cakrawala. Ibnu Ishaq, dalam Sirahnya menggambarkan peristiwa Mi’raj Nabi itu dengan kata-kata yang menggetarkan hati :

Nabi bertuturkata : “Setelah aku melakukan apa yang perlu aku lakukan di Yarussalem, aku dibawakan sebuah tangga dan aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah selain itu. Itulah sesuatu yang menjadi pandangan orang-orang mati pada Hari Kebangkitan. Sahabatku, Jibril, membuatku dapat memanjat sampai kami mencapai salah satu gerbang langit yang disebut Gerbang Garda. Di sana 1.200 Malaikat bertindak sebagai pengawal”.

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 10 kenabian, sesudah Nabi kehilangan orang-orang yang dicintainya : pamannya, Abu Thalib dan isteri tercintanya : Khadijah. Sementara kaum kafir Quraisy tak pernah berhenti melakukan penyerangan, permuhan terhadap Nabi, pengucilan dan terus berusaha membunuh atau mengusirnya dari tanah kelahirannya. Nabi tak lagi punya pelindung dan pembela. Ia sendirian dan kesepian, meski ia tetap saja tegar. Ia sangat yakin, Tuhan, melindunginya. Para ahli sejarah menyebutnya “Am al Huzn” ((Tahun duka cita).

Tulisan ini tidak ingin menceritakan kisah pengalaman perjalanannya bersama sahabatnya, Jibril, melintasi langit demi langit, bertemu saudara-saudaranya: para Nabi, dan kesaksiannya atas para penghuni sorga atau neraka, atau yang lainnya, seperti yang mungkin diharapkan sebagian orang. Ini hanya sedikit cerita, kisah atau dongeng tentang tradisi perayaan Isra-Mi’raj belaka.

Tradisi Isra’-Mi’raj

Peristiwa ini telah berabad-abad lamanya diperingati sebagai hari bersejarah di berbagai belahan dunia muslim dengan beragam acara ritualistik. Di Indonesia, Isra’-Mi’raj disambut dengan suka-cita, seperti hari-hari besar Islam yang lain. Setiap jatuh tanggal 27 Rajab, kaum muslim, memperingatinya dengan membaca kisah-kisah Nabi dalam al-Barzanji, dan nyanyian-nyanyian sanjungan kepada manusia agung ini. Ia juga dirayakan di masjid-masjid, pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat yang lain.

Di Turki, malam Mi’raj diperlakukan sama dengan malam kelahiran Nabi. Di masjid-majid lampu-lampu yang dibungkus ornamen-ornamen kaligrafis yang indah dinyalakan, malam menjadi terang benderang. Anak-anak yang lahir malam itu seakan-akan memperoleh berkah. Orang tua mereka memberikan nama Mi’raj al-Din, Mi’raj Muhammad dan lain-lain.

Di Kasymir, India, Isra’-Mi’raj disambut dengan nyanyian rakyat (folklor) yang berisi ucapan selamat datang dan penghormatan kepada Nabi yang selalu dirindui :

Para Malaikat menyambutmu : “Selamat Datang”
Berkata pula para penghuni sorga ;
“Selamat Datang, seratus kali selamat Datang!”

Salah seorang mistikus dan sufi bersar, Farid al-Din al-Attar, penulis buku terkenal “Mantiq al-Thair” (Percakapan Burung), melantunkan gubahan puisinya yang menggetarkan nurani :

Pada malam hari datanglah Jibril
Dan dengan suka cita ia berseru :
“Bangunlah, Duhai pemimpin dunia!
Tinggalkan tempat gelap ini dan pergilah kini
Ke Kerajaan Abadi Tuhan
Langkahkan kakimu menuju ‘di mana tiada tempat’
Dan ketuklah pintu tempat suci itu
Dunia bersuka cita karena engkau

Di Masjid al-Aqsha Nabi menjadi Imam para Nabi. Di Sidrah al-Muntaha Nabi bertemu Tuhan. Dia begitu dekat : “Qaba Qauwaini aw Adna”. Ini menggambarkan hubungan Dualitas Tuhan dan Nabi yang saling menatap dengan cinta dalam jarak yang sangat dekat. Nabi melihat-Nya tanpa tabir, mungkin bagai dipisahkan oleh kaca tembus pandang. Hati Nabi mengharu biru, jiwanya seakan hilang lenyap di hadapan Sang Maha Agung dan Maha Indah (dzu al Jalal wa al Jamal). Pertemuan yang sangat mendebarkan sekaligus mengesankan itu membuat beliau enggan kembali ke bumi. Tetapi, beliau ingat sekali, umat manusia di bumi menanti kehadirannya. Beliau menyayangi ummatnya lebih dari yang lain dan untuk itulah beliau diutus Tuhan, Rasulullah. Maka Nabi meminta apa yang bisa dilakukan oleh dirinya dan ummatnya jika ingin menjumpai dalam keintiman bersama Tuhan. Allah lalu memintanya Shalat. Ya, Shalat adalah Mi’raj orang-orang beriman.

Jalaluddin Rumi, sufi dan penyair muslim terbesar merumuskan rahasia shalat dalam puisinya yang terkenal :

Shalatnya tubuh, terbatas
Shalatnya ruh, tak terbatas
Ia tenggelam dan tak sadarnya ruh
Hingga segenap bentuk tetap berada di luar
Ketika itu tak ada lagi ruang yang memisahkan
Meski bagi Jibril sang ruh suci itu

Ketika Nabi gundah-gulana, beliau meminta Bilal bin Rabah, si kulit hitam, ex budak-belian Etiopia dengan suaranya yang merdu, mengumandangkan azan. Nabi memuji keindahan suaranya dan menghargainya seperti ia menghargai para sahabat dan siapapun manusia di bumi ini. Nabi mengatakan : “Ju’ilat Qurratu ‘Aini fi al shalah” (mataku dijadikan Tuhan berbinar-binar ketika aku shalat). Kapanpun beliau mendambakan untuk kembali ke hadirat Ilahi dan meninggalkan ruang dan waktu dunia yang pengap, beliau segera bergegas shalat, khusyu, kontempelatif dan keintiman yang mengharu-biru. Lalu segalanya menjadi damai, tenang dan sumringah. Betapa indahnya.Shalawat dan Salam untukmu Wahai Rasulullah. Adrikni Ya Habibi.
Drs.KH.Husaen Muahmmad (Pengasuh Pon Pes Dar Al Tauhid arjawinangun Cirebon)
Jakarta, 28-05-13
Ketika purnama merekah cerah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s